abah alun alun maulid

Simthud Durar adalah buku tipis yang berisi sejarah ringkas kehidupan Nabi Muhammad saw dan kepribadian beliau saw. Buku ini ditulis oleh Habib Ali pada bulan Rabi’ul Awal 1327 H di sebuah kota kecil yang bernama Seiwûn di Hadhramaut, Yaman. Buku itu kemudian tersebar dengan pesat ke berbagai negara di jazirah Arab, Afrika dan Asia dan kini telah mencapai benua Eropa, Amerika dan berbagai belahan bumi lainnya. Buku itu tidak hanya dibaca di bulan Rabî’ al-Awwal saja, tetapi juga dibaca setiap malam Jumat, Senin dan di hari-hari lain. Bahkan pembacaan kitab maulid ini sekarang acapkali mengawali upacara pernikahan, tasyakuran, pindah rumah, peresmian kantor, dll.

Masyarakat sangat antusias untuk membaca dan mempelajari kandungan buku itu. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan pembacaan maulid ini sebagai sarana untuk menanam benih kecintaan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, atau sebagai penawar rindu kepada beliau. Alhasil, pembacaan buku maulid ini kini sudah menjadi adat kebiasaan pada komunitas tertentu.

Habib Ali menulis buku Maulid Simthud Durar (untaian mutiara) di tiga majelis, dengan mendiktekannya secara langsung, dimulai pada hari Kamis 26 Shafar bulan 1327 saat usia beliau menginjak 68 tahun atau 6 tahun sebelum wafat beliau.

Pada hari Kamis 26 Shafar 1327 H, Habîb ‘Alî mendiktekan paragraf awal dari Maulid Simtud Durar setelah memulainya dengan bacaan basmalah:

اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ سُلْطَانُهُ، اَلْوَاضِحِ بُرْهَانُهُ
sampai dengan ucapan beliau:

وَهُوَ مِنْ فَوْقِ عِلْمِ مَا قَدْ رَأَتْهُ رِفْعَةً فِيْ شُؤُوْنِهِ وَكَمَالاً

Ia kemudian memerintahkan agar tulisan itu dibacakan kepada beliau. Setelah pendahuluan yang berupa khutbah itu dibacakan, beliau berkata, “Insyâ Allâh aku akan segera menyempurnakannya. Sudah sejak lama aku berkeinginan untuk menyusun kisah maulid. Sampai suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa pena dan kertas, kemudian berkata kepadaku, ‘mulailah sekarang.’ Aku pun lalu memulai-nya.”

Kemudian dalam majelis lain beliau mendiktekan maulidnya mulai dari:

فَسُبْحَانَ الَّذِيْ أَبْرَزَ مِنْ حَضْرَةِ اْلإِمْتِنَانِ

Hingga:

وَيُكْتَبُ بِهَا بِعِنَايَةِ اللهِ فِيْ حِزْبِهِ

Pada hari Selasa, awal Rabî’ul Awwal 1327 H, ia memerintahkan agar maulid yang telah beliau tulis dibaca. Beliau membukanya dengan Fâtihah yang agung. Kemudian pada malam Rabu, 9 Rabî‘ul Awwal, beliau mulai membaca maulidnya di rumah beliau setelah maulid itu disempurnakan. Beliau berkata, “Maulid ini sangat menyentuh hati, karena baru saja selesai diciptakan.”

Pada hari Kamis, 10 Rabî‘ul Awwal beliau menyempurnakan-nya lagi. Pada malam Sabtu, 12 Rabî‘ul Awwal 1327 H, ia membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid ‘Umar bin Hâmid as-Saggâf. Sejak hari itu Habîb ‘Alî kemudian membaca maulidnya sendiri: Simtud Durar. Sebelumnya ia selalu membaca maulid al-Hafîdz ad-Diba’î.

Tanggal 27 Sya’bân 1327 H, Sayyid Hâmid bin ‘Alwî al-Bâr akan pergi ke Madinah al-Munawwarah membawa satu naskah maulid Simtud Durar yang akan dibacanya di hadapan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan merasa sangat senang.

Habîb ‘Alî radhialâhu ‘anhu berkata:

Dakwahku akan tersebar ke seluruh wujud. Maulidku ini akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, akan mengumpul-kan mereka kepada Allâh dan akan membuat mereka dicintai Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Jika seseorang menjadikan kitab maulidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka rahasia (sir) al-Habîb shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan tampak pada dirinya. Aku yang mengarangnya dan mendiktekannya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Pujianku kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dapat diterima oleh masyarakat. Ini karena besarnya cintaku kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Bahkan dalam surat-suratku, ketika aku menyifatkan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Allâh membukakan kepadaku susunan bahasa yang tidak ada sebelumnya. Ini adalah ilham yang diberikan Allâh kepadaku. Dalam surat menyuratku ada beberapa sifat agung Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, andaikan Nabhânî membacanya, tentu ia akan memenuhi kitab-kitabnya dengan sifat-sifat agung itu.

Munculnya Maulid Simtud Durar di zaman ini akan menyempurnakan kekurangan orang-orang yang hidup di zaman akhir. Sebab, tidak sedikit pemberian Allâh kepada orang-orang terdahulu yang tidak dapat diraih oleh orang-orang zaman akhir, tapi setelah maulid ini datang, ia akan menyempurnakan apa yang telah terlewatkan. Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai maulid ini.

Suatu ketika, Habib Umar bin Edrus Alaydrus berkata kepada Habib Ali Al-Habsyi, “Semalam aku bermimpi bertemu denganmu, dan aku mengeluhkan kepadamu lemahnya kemampuan anak-anakku dalam memahami ilmu. Maka engkau berkata kepadaku dalam mimpi tersebut, “Perintahkan anak-anakmu untuk menulis ulang maulidku.” Seakan-akan engkau menunjukkan kepadaku bahwa dengan menulis maulid Simthud Durar, mereka akan mendapatkan Fath (kunci pembuka ilmu).” Maka Habib Ali menjawab, “Memang demikian adanya, barang siapa ingin mendapatkan Fath, hendaknya dia menghapal Maulid Simthud Durar atau menghapalnya.”

Simtud Durar di Kenya

Pada malam Kamis tgl. 21 Sya’bân tahun 1326 datang seorang lelaki dari Kenya dengan anaknya berumur 10 tahun ke rumah Habîb ‘Alî. Ia mencium tangan dan menangis karena gembira telah bertemu beliau.
“Alhamdulillâh… Segala puji bagi Allâh yang telah memperlihatkan kepadaku wajahmu yang mulia sebelum ajal menjemputku. Semoga Allâh mengumpulkan aku ke dalam kelompokmu di hari Kiamat kelak,” kata lelaki itu. “Aku datang dari Swahili hanya untuk memandang wajahmu dan mendapat keberkatan darimu. Jangan sampai usahaku sia-sia tanpa mendapat doamu, Sayyidî. Aku pergi bersama anak ini agar dapat kau usap tubuhnya dan kau doakan. Sebab, anak ini setelah mendengar beritamu, setiap hari berkata: aku ingin bertemu Habîbî ‘Alî Habsyî.”

Habîb ‘Alî lalu mengusap dada anak itu dan mendoakan dengan keberkahan.

“Ya Sayyidî ‘Alî aku adalah khâdim maulidmu yang agung yang diselenggarakan atas namamu oleh Sayyid Shâleh bin ‘Alwî Jamalullail di Lamu setiap tahun,” kata lelaki itu.
“Bagaimana cerita maulid itu? Apa yang dilakukan Sayyid Shâleh dalam maulid itu?” tanya Habîb ‘Alî.
Masjid Riyadh - Lamu“Maulid ‘Alî Habsyî menjadi masyhur di Lamu. Maulid itu dibaca di Masjid Riyâdh sebagaimana nama masjidmu dan dihadiri oleh banyak orang. Dalam masjid itu digantungkan 1.000 pelita, dihadiri banyak orang dan terjadi beberapa karâmah. Di antara-nya adalah yang terjadi pada saudaraku. Ia membawa dua botol air mawar untuk diedarkan kepada hadirin. Ia mengempit botol yang satu dan mengedarkan botol yang lain. Setelah botol yang pertama habis isinya, ia mengambil botol yang kedua dan mengempit botol pertama yang telah kosong. Ia mengedarkan botol kedua sampai habis isinya. Setelah habis ia mengambil botol pertama yang dikempit ternyata botol itu kembali berisi penuh. Ia berkata dalam hati, ‘Mungkin aku yang keliru.’ Ia lalu mengedarkan botol pertama dan mengempit botol kedua yang telah kosong. Setelah isi botol pertama habis ia dengan yakin mengumpulkan-nya dengan botol kedua tapi ternyata ia mendapati botol kedua penuh lagi, lalu ia mengedarkannya kepada hadirin. Kemudian ketika maulid sedang berlangsung, seseorang yang berdiri di pinggir sumur masjid terjatuh ke dalamnya. Mereka yang hadir berteriak kaget mengira orang itu pasti mati. Namun, Habîb Shâleh berkata, ‘Tidak akan terjadi apa-apa padanya berkat Habîb ‘Alî.’ Ternyata orang itu selamat dan sama sekali tidak terluka.”
“Itu adalah karâmah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,” kata Habîb ‘Alî. [Q1:114-115]

Bagian dalam Masjid Riyadh Lamu

Bagian dalam Masjid Riyadh Lamu

Habîb Shâleh yang di Lamu dikenal sebagai Habîb Swalleh Jamal Lely memang merupakan tokoh yang sangat masyhur di Afrika, khususnya Afrika Timur. Peringatan maulidi (maulid) yang diadakannya selama seminggu termasuk yang paling banyak dikunjungi. Menjelang peringatan maulid di Lamu pada bulan Rabi‘ul Awwal orang mulai berdatangan dari Malawi, Afrika Selatan, Mozambique, Pulau Komoro, Uganda, Somalia, Tanzania dan berbagai tempat lain. Kunjungan ribuan orang ini meningkatkan pendapatan pemerintah daerah dan membuat ekonomi di Lamu mengalami perkembangan luar biasa.

Selama berlangsung peringatan maulidi, di halaman Riyadha Mosque (Masjid Riyadh) diadakan berbagai kegiatan hiburan di antaranya adalah lagu dan tarian. Di samping itu mereka juga menyelenggarakan berbagai permainan, misalnya: lomba renang, balap perahu, lomba memakai pacar (inai), tarik tambang, balap keledai, dan lain-lain. Alhasil, peringatan ini bersifat spiritual dan cultural.

Maulid - Lamu

Profesor Rebecca Gearhart, dosen Fakultas Antropologi University of Florida dalam artikelnya Four days Maulidi in Lamu, Kenya (Empat Hari di Lamu, Kenya: Menghadiri Peringatan Maulid) menulis:

People who live in Kenya’s Lamu archipelago wait all year for Maulidi, the celebration they hold in commemoration of the Prophet Muhammad’s birth. Thousands of their relatives and friends, from East Africa and abroad, descend on the tiny town of Lamu to celebrate for four days during Rabbi-al-Awwal, the month in which the Prophet was born.

Maulid - Lamu - 2
Masyarakat yang tinggal di pulau Lamu, Kenya menunggu-nunggu sepanjang tahun datangnya maulid, yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Ribuan kerabat dan sahabat dari Afrika timur dan mancanegara membanjiri kota kecil Lamu untuk menghadiri peringatan maulid selama empat hari di bulan Rabî‘ul Awwal, yakni bulan kelahiran Nabi.

During the Maulidi celebration in Lamu, the grounds of the Riyada mosque become the arena in which ngoma (dance) groups perform traditional music and dances each afternoon and evening… Of primary importance is the uta dance, which descendants of Habib Saleh’s first followers perform in front of his former home. Watching the wagema perform uta, originally a prayer for rain, was one of Habib Saleh’s favorite pastimes.
Selama peringatan maulid di Lamu, halaman Masjid Riyadh menjadi arena untuk memainkan musik dan tarian tradisional tiap sore dan malam. Yang pokok adalah Tarian Uta, yang dilakukan oleh keturunan dari murid pertama Habîb Saleh di depan rumah beliau. Menyaksikan para Wagema1 menarikan Uta—yang pada mulanya merupakan tarian memohon hujan—merupakan kegemaran Habîb Saleh.

Each mosque in Lamu Chooses a day during the month of Rabbi-al-Awwal to celebrate Muhammad’s birth. There are several different kinds of Maulidi praise poems that worshipers recite on these occasions. A favorite in Lamu is a poem composed by an influential Arab scholar named al-Habshi…
Masing-masing masjid di Lamu menetapkan satu hari di bulan Rabî‘ul Awwal untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Ada beberapa kisah maulid yang dibaca pada bulan itu, namun kisah maulid yang ditulis oleh al-Habshi, seorang ulama Arab, adalah yang paling disukai di Lamu.

Demikianlah kutipan dari artikel yang ditulis oleh Profesor Rebecca Gearhart yang melakukan penelitian selama 4 hari di Lamu.2

Lihat http://interact.sunnirazvi.org/forum/read.php?19,1483,1483

Maulid - Lamu - 4Maulid - Lamu - 3